Pendidikan Hukum Kritis Sebagai Instrumen Pemberdayaan: Menjembatani Pluralisme Hukum dan Hak Masyarakat Adat Atas Sumber Daya Alam
DOI:
https://doi.org/10.38035/jihhp.v6i3.8109Keywords:
Keadilan Epistemis, Masyarakat Adat Dayak Kenyah, Paralegal Adat, Pendidikan Hukum Kritis, Pluralisme HukumAbstract
Pendidikan hukum di Indonesia yang dikonstruksi dalam kerangka positivisme hukum secara struktural tidak mampu menjangkau masyarakat adat yang justru paling membutuhkan pengetahuan hukum untuk melindungi hak kolektif mereka dari ekspansi ekonomi ekstraktif. Penulisan ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan pendidikan hukum bagi masyarakat adat di Kalimantan, mengembangkan model pendidikan hukum kritis untuk paralegal adat, serta menganalisis dampaknya terhadap peningkatan kapasitas advokasi komunitas. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif-evaluatif dengan pendekatan mixed-method yang mengintegrasikan analisis doktrinal-normatif, empiris-sosiologis, dan etnografis di Desa Adat Pampang, Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Hasil penulisan ini menunjukkan bahwa komunitas Dayak Kenyah mengalami kekerasan epistemis berupa delegitimasi pengetahuan hukum adat oleh persyaratan pembuktian formal negara. Model pendidikan hukum kritis yang dikembangkan berfondasi pada tiga pilar pluralisme hukum, conscientization, dan praxis terbukti mampu mentransformasi kesadaran magis menjadi kesadaran kritis serta memberdayakan paralegal adat sebagai subjek hukum aktif.
References
(AMAN), A. M. A. N. (2025). Catatan akhir tahun AMAN 2025: Negara gagal lindungi masyarakat adat. AMAN.
(KPA), K. P. A. (2026). Catatan akhir tahun 2025: Konflik agraria di tengah transisi politik. KPA.
Adiputra, M. R., & Utami, I. S. (2025). Existence and Position of Paralegal in Legal Assistance and Provision of Legal Aid in Indonesia. Law Research Review Quarterly, 11(3), 1101–1131.
Berkelanjutan, M. (2024). Pengesahan RUU masyarakat adat pada 2025: Menanti tindakan nyata DPR dan pemerintah kepada masyarakat adat. Madani Berkelanjutan.
Budhaeri, L. K., Maharani, C. A. D., Afifah, H. N. Z., Pribadi, G. B. D., Astarina, Y., Subroto, A., & Kuspraningrum, E. (2025). Kontroversi pertambangan illegal pada tanah ulayat Kutai Barat (Studi kasus PT. Trubaindo Coal Mining). Swaraju Justisia, 9(1), 152–168. https://doi.org/10.31933/jb7bdk15
Chung, Y. B. (2025). Paulo Freire’s dialogic pedagogy and the democratization of higher education in Taiwan. Journal of Pedagogical Sociology and Psychology, 7(2), 1–12. https://doi.org/10.33902/jpsp.202578134
Freire, P. (2001). Pedagogy of the oppressed (Terj. Indonesia: Pendidikan Pembebasan). Serambi.
Goel, A. (2025). The illusion of inclusion: How mainstream international law scholarship silences global south voices? International Journal of Law, 11(7), 106–112.
Hamid, A. . N. A. S. R. (2025). Prinsip Maslahah dalam Penyelesaian Sengketa Tanah Adat: Kajian terhadap Praktik Musyawarah Adat Dayak Kenyah di Desa Pampang. Tasyri’: Journal of Islamic Law, 4(2), 1297–1322. https://doi.org/10.53038/tsyr.v4i2.423
Harahap, A. P. (2025). Legal Pluralism and Customary Justice in Indonesia. Littera Legis, 1(1). https://doi.org/10.60084/ll.v1i1.1
Harahap, A. P., Ramadhona, A., Sari, M., & Hasibuan, N. L. (2025). Legal pluralism and customary justice in Indonesia: Reconstructing adat law under state legal dominance. Littera Legis, 1(1), 1–18.
Hulihulis, M., & al.], [et. (2024). The role of indigenous community paralegals in providing legal aid: Case study of Sorong Regency. Jurnal Lemlit Universitas Muhammadiyah Sorong, 2(1), 22–34.
Indonesia, C. N. N. (2025). RUU penyadapan hingga masyarakat adat masuk Prolegnas 2026. CNN Indonesia.
Indonesia, M. (2025). Rakernas AMAN: Setop kriminalisasi, sahkan UU masyarakat adat. Mongabay Indonesia.
Institute, P. K. H. A. D. V. (2023). Project for Innovation of Teaching Adat Law (PINTAL).
Jambi, U. (2024). Analisis pengelolaan hutan adat pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012. Limbago: Journal of Constitutional Law, 4(1). https://doi.org/10.22437/limbago.v4i1.20000
Kadir, M. I., & Hippy, J. (2025). Hutan adat pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X-2012: Konsekuensi hukum dan otoritas pemanfaatan oleh masyarakat. Arus Jurnal Sosial Dan Humaniora, 5(1), 828–837. https://doi.org/10.57250/ajsh.v5i1.1141
Kalesh, A. S., & Kahar, S. K. (2026). Interrogating subaltern voice: Representation and epistemic violence in Spivak’s postcolonial theory. International Journal for Multidisciplinary Research, 8(1). https://doi.org/10.36948/ijfmr.2026.v08i01.64686
Knowles, M. S., Holton III, E. F., & Swanson, R. A. (2015). The adult learner: The definitive classic in adult education and human resource development (8th ed.). Routledge.
Lubis, A. F. (2025). Legal pluralism and social identity: An analysis of state and religious law interaction in local dispute resolution in Indonesia and Pakistan. Lex Localis - Journal of Local Self-Government, 23(11), 1910–1930.
Maharani, P. H., & Budiarti, S. (2024). Community-based paralegals for access to justice in Indonesia: A strategic enhancement. Journal of Contemporary Sociological Issues, 4(2), 164–180. https://doi.org/10.19184/csi.v4i2.45781
Mokobombang, M., Suleman, N. H., Mokodenseho, S., Calya, C. K. P., Mamonto, M., & Sumanta, M. J. (2025). The role of law in maintaining social justice in Indonesia through community training and empowerment. Jurnal Pustaka Cendekia Hukum Dan Ilmu Sosial, 3(3), 244–254. https://doi.org/10.70292/pchukumsosial.v3i3.169
Narayan, D. (2002). Empowerment and poverty reduction: A sourcebook. The World Bank.
Permana, A. M., & Putra, I. P. R. A. (2023). Efforts to Improve Access to Justice for Legal Aid Recipients in Indonesia Through Paralegals. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, 17(2), 223–234.
Petrov, I., & Yusuf, A. (2025). Reforming legal education in the Global South: Colonial legacies and critical pedagogy. International Studies on Social and Legal Pluralism, 3(1), 1–15.
Prasetya, N. H., Zuffran, F., & Murtada, F. S. (2024). Analisis Konflik Agraria di Kalimantan Timur: Studi Kasus Sengketa Lahan Antara Masyarakat Adat dan Perusahaan Tambang. Media Hukum Indonesia, 2(2), 686–692.
RI, D. P. R. (2025). Daniel Johan: Regulasi masyarakat hukum adat harus komprehensif. DPR RI.
Surono, A., & Wenceslaus, W. (2025). Hak Ulayat sebagai Manifestasi Maqāṣid al-Sharī’ah dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam: Analisis Kasus Masyarakat Adat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Tasyri’: Journal of Islamic Law, 4(2), 1351–1378. https://doi.org/10.53038/tsyr.v4i2.422
Susinto, T. A. M. (2021). Legal consciousness of community-based refugee paralegals in the context of a refugee community. Erasmus University Rotterdam.
Syafaruddin, S. (2025). The impact of development policies on community empowerment in rural areas. Green Inflation, 2(2). https://doi.org/10.61132/greeninflation.v2i2.316
Triswianto, P. O., Saragih, & Farhan, A. K. (2025). Social impact of culture-based community empowerment program: Qualitative study of Maengket Program for vulnerable communities in Tomohon, North Sulawesi. Asian Journal of Social and Humanities, 3(11), 1946–1962.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Adnan Hamid, Budi Joyo Santoso

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Hak cipta :
Penulis yang mempublikasikan manuskripnya di jurnal ini menyetujui ketentuan berikut:
- Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis.
- Penulis mengakui bahwa Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik (JIHHP) berhak menjadi yang pertama menerbitkan dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (Attribution 4.0 International CC BY 4.0) .
- Penulis dapat mengirimkan artikel secara terpisah, mengatur distribusi non-eksklusif manuskrip yang telah diterbitkan dalam jurnal ini ke versi lain (misalnya, dikirim ke repositori institusi penulis, publikasi ke dalam buku, dll.), dengan mengakui bahwa manuskrip telah diterbitkan pertama kali di JIHHP.













































