Kedudukan Sumpah Suppletoir Sebagai Alat Bukti Dalam Perkara Perceraian: Analisis Dalam Perspektif Hukum Islam
DOI:
https://doi.org/10.38035/jihhp.v6i2.7797Keywords:
Sumpah Suppletoir, Alat Bukti, Perkara Perceraian, Hukum IslamAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan Sumpah Suppletoir sebagai alat bukti dalam perkara perceraian serta meninjau kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip pembuktian dalam Hukum Islam. Sumpah Suppletoir, sebagai sumpah pelengkap yang diberikan kepada salah satu pihak ketika alat bukti lain dinilai belum memadai, memiliki peran signifikan dalam penyelesaian sengketa perceraian, terutama ketika terjadi kekurangan bukti atau ketidakjelasan fakta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hukum normatif-empiris, melalui studi terhadap peraturan perundang-undangan, literatur fikih, dan analisis putusan Pengadilan Agama Sungai Penuh yang menerapkan Sumpah Suppletoir dalam proses pembuktian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara normatif, Sumpah Suppletoir memiliki legitimasi dalam hukum positif Indonesia dan memiliki kesesuaian dengan konsep sumpah (al-yamin) dalam fikih, terutama sebagai instrumen untuk menguatkan kebenaran pihak yang lemah dalam pembuktian. Namun demikian, secara praktis penerapannya masih menimbulkan perdebatan terkait aspek keadilan, potensi penyalahgunaan, serta perlindungan terhadap pihak yang rentan, khususnya perempuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kedudukan Sumpah Suppletoir tetap relevan sebagai alat bukti, tetapi perlu diharmoniskan dengan prinsip kehati-hatian, keadilan prosedural, dan nilai-nilai maqāṣid al-syarī‘ah agar tidak menyimpang dari tujuan penegakan hukum yang adil dan berintegritas.
References
Amelia, N. I., Syaikhu, S., & Maulana, A. (2025). Gender Justice in Sighat Taklik Talak: Towards Equal Legal Protection for Husband and Wife in Indonesia. SIGn Jurnal Hukum, 7(1), 488–502. https://doi.org/10.37276/sjh.v7i1.466
Andriyaldi, A., Nisa, A., Afifi, A. A., & Hamdani, H. (2024). Syarat Wajib Saksi dalam Perceraian dalam Tinjauan Maqashid Syariah, Mempertimbangkan Pandangan Fuqaha dan Mufassir. AL-IMAM: Journal on Islamic Studies, Civilization and Learning Societies, 5(2), 93–100. https://doi.org/10.58764/j.im.2024.5.78
Asis, L. F. (2024). Penerapan Asas Ultra Petitum Partium Di Pengadilan Agama Perspektif Hukum Islam. TARUNALAW : Journal of Law and Syariah, 2(02), 197–205. https://doi.org/10.54298/tarunalaw.v2i02.209
Baharudin, B., Satria, I., & Gumilang AS, M. A. (2023). Pertimbangan Hakim terhadap Putusan Verstek pada Perkara Perceraian Nomor 1916/Pdt.G/2022/PA.Tnk. Amsir Law Journal, 4(2), 246–253. https://doi.org/10.36746/alj.v4i2.190
Chairunnisa Annasya, Asep Ramdan Hidayat, & Encep Abdul Rojak. (2024). Analisis Putusan Hakim tentang Nafkah Mut’ah pada Cerai Gugat Menurut Hukum Islam. Bandung Conference Series: Islamic Family Law, 4(2), 101–107. https://doi.org/10.29313/bcsifl.v4i2.13572
Danesya, D., & Wahyudi. (2024). Tinjauan Undang-Undang Perkawinan terhadap Putusan Hakim Nomor 6158/Pdt.G/2021/PA.Badg Tentang Itsbat Nikah Poligami Siri dalam Rangka Perceraian. Bandung Conference Series: Islamic Family Law, 4(1). https://doi.org/10.29313/bcsifl.v4i1.12120
Daud, D. (2022). Peranan Sumpah Sebagai Alat Bukti Di Dalam Proses Perdata. Juripol (Jurnal Institusi Politeknik Ganesha Medan), 5(1), 16–22. https://doi.org/10.33395/juripol.v5i1.11303
Dewinda Ari Fitriyani, & Indah Purbasari. (2024). Putusan Verstek Terhadap Perkara Cerai Gugat Suami Ghaib di Pengadilan Agama Surabaya. Referendum : Jurnal Hukum Perdata Dan Pidana, 1(4), 34–41. https://doi.org/10.62383/referendum.v1i4.254
Fuadi, A. S., Eka Saputra, D., & Munajah, M. (2021). Analisis Yuridis Hak Ex Officio Hakim Dalam Perkara Cerai Gugat (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Martapura Nomor 318/Pdt.G/2020/Pa.Mtp). Jurnal Penegakan Hukum Indonesia, 1(1), 70–87. https://doi.org/10.51749/jphi.v1i1.21
Hamas Muhammadi, Fachri Wahyudi, & Vera Charmila. (2024). Keabsahan Putusan Pengadilan Agama Tentang Perceraian Yang Didasarkan Atas Kesaksian Saksi Yang Disewa. Wasatiyah: Jurnal Hukum, 5(1), 27–42. https://doi.org/10.70338/wasatiyah.v5i1.144
Huda, M., & Nurhidayattulloh, M. (2024). Analisis Putusan Verstek Kumulasi Isbat Nikah Dan Cerai Gugat (Studi Perkara Nomor: 135/Pdt.G/2022/Pa.Pbg). Khuluqiyya: Jurnal Kajian Hukum Dan Studi Islam, 15–24. https://doi.org/10.56593/khuluqiyya.v6i1.122
Jamaludin, J., Marluwi, M., & Muzammil, S. (2022). Cerai Gugat Dengan Alasan Syiqaq (Studi Kasus Putusan Nomor:526/Pdt.G/2020/Pa.Sry Pengadilan Agama Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya). Al-Usroh, 2(2), 416–431. https://doi.org/10.24260/al-usroh.v2i2.704
Kirana, G. C. (2023). Pembuktian dalam Perkara Perceraian di Pengadilan Agama. Syntax Literate ; Jurnal Ilmiah Indonesia, 8(9), 5025–5036. https://doi.org/10.36418/syntax-literate.v8i9.13620
Lukman, L. H. (2025). Analisis Putusan Hakim Peradilan Agama Jember Terkait Cerai Gugat Nomor 5577/Pdt.G/2023/Pa.Jr Perspektif Madzahibul Arba’ah. MASADIR: Jurnal Hukum Islam, 5(01), 1091–1112. https://doi.org/10.33754/masadir.v5i01.1638
Marinka, T. W., Paridian, N., Dewangga, R., Ruslan, L. O. M., Wahyudi, S., & Tanjung, A. S. (2025). Kajian Putusan Pengadilan Agama Surakarta Nomor 865/Pdt.G/2024/Pa.Ska Dalam Perspektif Hukum Perdata. HUMANIORUM, 3(1), 45–50. https://doi.org/10.37010/hmr.v3i1.64
Masdin, M., Madiong, B., & Hasan, Y. A. (2022). Akibat Hukum Putusan Pengadilan Agama Enrekang Nomor Perkara 217/Pdt.G./2020/Pa.Ek Setelah Terjadinya Perceraian. Indonesian Journal of Legality of Law, 4(2), 205–216. https://doi.org/10.35965/ijlf.v4i2.1474
Muhajir, M., & Uyun, Q. (2021). SEMA Waiver Number 3 of 2018 in the Case of Isbat for Polygamous Marriage: Study of Legal Considerations of Judges in Decision Number 634/Pdt.G/2018/PA.Mtr. Asy-Syir’ah: Jurnal Ilmu Syari’ah Dan Hukum, 55(2), 263. https://doi.org/10.14421/ajish.v55i2.1002
Muhammad Husni Abdulah Pakarti. (2023). Perlindungan Hak Anak Dalam Perceraian Menurut Hukum Keluarga Islam. Mawaddah: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 1(1). https://doi.org/10.52496/mjhki.v1i1.7
Munadi, K., & Fahmi, M. N. (2025). Cerai Talak Karena Istri Menolak Tinggal Di Rumah Suami (Analisis Putusan No 5311/Pdt.G/2024/Pa.Jr Prespektif Maqasid Syari’ah). KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian Dan Pengembangan, 5(3), 894–903. https://doi.org/10.51878/knowledge.v5i3.6959
Nurhisna, N. (2025). Analisis Putusan Pengadilan Agama Nomor 0067/Pdt.G/2016/PA.LK. Nuris Journal of Education and Islamic Studies, 5(2), 190–199. https://doi.org/10.52620/jeis.v5i2.177
Rachmawati, W., & Marwa, M. H. M. (2022). Sumpah Pemutus: Konstruksi Hukum terhadap Putusan Pengadilan Nomor 13/Pdt.G/2019/PN.Bkt. Ahmad Dahlan Legal Perspective, 2(1), 42–58. https://doi.org/10.12928/adlp.v2i1.6318
Ramadhita, R., Ali, M., & Syabbul, B. (2023). Gender inequality and judicial discretion in Muslims divorce of Indonesia. Cogent Social Sciences, 9(1). https://doi.org/10.1080/23311886.2023.2206347
Rifqi, M. J. (2021). Sejarah Sosial Talak di Depan Pengadilan Agama dalam Undang-Undang Perkawinan di Indonesia. AL-HUKAMA’, 11(2), 55–84. https://doi.org/10.15642/alhukama.2021.11.2.55-84
Rudi Pratama, & Nurul Huda Prasetya. (2023). Analisis Penetapan Mut’ah dan Nafkah Iddah Terhadap Istri yang Nusyuz Perspektif Hukum Islam (Studi Putusan Hakim No. 3085/Pdt.G/2022/PA.Lpk). Jurnal Interpretasi Hukum, 4(3), 316–323. https://doi.org/10.22225/juinhum.4.3.7788.316-323
Sarta, Encep Abdul Rojak, & Asep Ramdan Hidayat. (2025). Analisis Putusan Perceraian Nomor: 932/PDT.G/2010/PA.KRW Akibat Pihak Ketiga. Bandung Conference Series: Islamic Family Law, 5(2). https://doi.org/10.29313/bcsifl.v5i2.21533
Soleh, Y. P. (2022). Analisis Hukum Terhadap Penolakan Suami Mengucapkan Ikrar Talak Dalam Perkara Perceraian. LITIGASI, 23(2), 171–190. https://doi.org/10.23969/litigasi.v23i2.5608
Taufik, A. (2019). Analisis Keadilan Hukum Putusan Verstek pada Perkara Cerai Talak No. 0520/Pdt.G/2014/PA. Kab. Kediri. Mahakim: Journal of Islamic Family Law, 3(2). https://doi.org/10.30762/mh.v3i2.1651
Taufik, A. (2022a). Analisis Keadilan Hukum Putusan Verstek Pada Perkara Cerai Talak No. 0520/Pdt.G/2014/PA. Kab. Kediri. Mahakim: Journal of Islamic Family Law, 3(2), 111–118. https://doi.org/10.30762/mahakim.v3i2.99
Taufik, A. (2022b). Putusan Verstek Pengadilan Agama Pada Cerai Talak Perspektif Keadilan Gender. Mahakim: Journal of Islamic Family Law, 2(2), 67–77. https://doi.org/10.30762/mahakim.v2i2.85
Usthyawati, N. U., Muhaimin, M., & Satriya, B. B. (2025). Fulfillment of Wife’s Rights after Divorce in the Perspective of Legal Justice Theory and Maqashid Shari’ah Cum-Mubadalah. Sakina: Journal of Family Studies, 9(3), 293–305. https://doi.org/10.18860/jfs.v9i3.15981
van Huis, S. C. (2019). Khul‘ over the longue durée: the decline of traditional fiqh-based divorce mechanisms in Indonesian legal practice. Islamic Law and Society, 26(1–2), 58–82. https://doi.org/10.1163/15685195-00254A05
Yusri, H., & Nelli, J. (2025). Putus Perkawinan Karena Li’an Dan Akibat Hukumnya Terhadap Harta Perspektif Hukum Islam Di Indonesia. Khulasah : Islamic Studies Journal, 7(2), 10–118. https://doi.org/10.55656/kisj.v7i2.410
Zaeni, W., Encep Abdul Rojak, & Fahmi Fatwa Rosyadi Hamdani Satria. (2024). Analisis Hukum Islam terhadap Putusan Hakim Nomor 4235/Pdt.G/2023/PA.Badg tentang Nafkah Iddah dan Mut’ah. Bandung Conference Series: Islamic Family Law, 4(2), 80–86. https://doi.org/10.29313/bcsifl.v4i2.13403
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Joni Iswandi, Widiya Yul

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
Hak cipta :
Penulis yang mempublikasikan manuskripnya di jurnal ini menyetujui ketentuan berikut:
- Hak cipta pada setiap artikel adalah milik penulis.
- Penulis mengakui bahwa Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik (JIHHP) berhak menjadi yang pertama menerbitkan dengan lisensi Creative Commons Attribution 4.0 International (Attribution 4.0 International CC BY 4.0) .
- Penulis dapat mengirimkan artikel secara terpisah, mengatur distribusi non-eksklusif manuskrip yang telah diterbitkan dalam jurnal ini ke versi lain (misalnya, dikirim ke repositori institusi penulis, publikasi ke dalam buku, dll.), dengan mengakui bahwa manuskrip telah diterbitkan pertama kali di JIHHP.













































